LSM Progress Angkat Dugaan Penyimpangan Sistematis di Proyek IC Malili, Minta Penegakan Hukum Tegas

GASKAN INDONESIA, LUTIM–Megaproyek Masjid Islamic Center Malili senilai Rp43,5 miliar kini berada di bawah sorotan tajam. Bangunan yang digadang-gadang sebagai ikon kebanggaan di era Bupati Budiman justru menunjukkan kondisi memprihatinkan. Kerusakan serius pada plafon, padahal usia bangunan masih sangat baru, memicu kecurigaan luas akan adanya persoalan serius di balik proyek tersebut.Kerusakan dini ini dinilai bukan sekadar kelalaian teknis. Banyak pihak melihatnya sebagai indikasi kuat kegagalan konstruksi yang membuka dugaan adanya praktik penyimpangan dalam proses pembangunan.

Proyek yang dikerjakan dalam tiga tahap anggaran—2022 sebesar Rp14,6 miliar, 2023 Rp8 miliar, dan 2024 Rp21 miliar—menyerap dana publik dalam jumlah besar. Namun hasil yang tampak di lapangan justru jauh dari harapan.

Akmal, tokoh masyarakat Luwu Timur, meluapkan kekecewaannya secara terbuka.

“Ini bukan sekadar kesalahan, ini bentuk pengabaian terhadap tanggung jawab. Uang rakyat puluhan miliar dihabiskan, tapi bangunan sudah rusak. Wajar jika publik curiga ada yang tidak beres,” tegasnya.

Menurut Ahmad, Koordinator Wilayah Luwu Raya dari LSM Progress, menilai proyek ini menunjukkan pola yang kerap muncul dalam kasus-kasus proyek bermasalah.

“Kerusakan secepat ini pada proyek bernilai besar bukan hal wajar. Ada indikasi kuat penurunan kualitas material atau permainan anggaran. Ini pola klasik. Biasanya tidak berdiri sendiri, tapi melibatkan banyak pihak,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan ini harus dibuka secara menyeluruh, tidak berhenti pada pelaksana teknis di lapangan.

“Harus ditelusuri dari hulu ke hilir—mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan. Semua pihak yang terlibat wajib dimintai pertanggungjawaban,” tambahnya.

Aparat kepolisian disebut telah mulai melakukan penyelidikan atas proyek ini. Fokusnya tidak hanya pada kerusakan fisik, tetapi juga kemungkinan adanya penyimpangan dalam pengelolaan anggaran.

Namun di tengah proses tersebut, publik menuntut lebih dari sekadar penyelidikan awal. Transparansi dan ketegasan dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan, tetapi juga keselamatan masyarakat. Sebagai fasilitas umum dan tempat ibadah, kondisi bangunan yang bermasalah berpotensi membahayakan jamaah.

Kini, Islamic Center Malili berada di persimpangan: tetap menjadi simbol kebanggaan atau berubah menjadi bukti kegagalan tata kelola proyek.

Desakan publik semakin jelas—usut tuntas, buka semua fakta, dan tindak tegas siapa pun yang terbukti bertanggung jawab. Tanpa pengecualian.(erik)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *