GASKANINDONESIA, LUWU TIMUR – Gelombang kekecewaan masyarakat kembali mengemuka dalam aksi unjuk rasa yang digelar LSM-GEMPA bersama tenaga kerja lokal di Kecamatan Wasuponda, Jumat. Massa tidak hanya mempertanyakan minimnya pemerataan tenaga kerja lokal, tetapi juga melontarkan kritik tajam terhadap dugaan ketidakkonsistenan penerapan standar keselamatan kerja di lingkungan industri nikel Luwu Timur.
Dalam aksi tersebut, nama PT HNI menjadi sasaran sorotan utama. Namun perhatian massa juga mengarah kepada PT Vale yang selama ini dikenal gencar mengkampanyekan budaya keselamatan kerja. Massa mempertanyakan mengapa aturan yang diterapkan ketat kepada pekerja di satu perusahaan justru terkesan longgar pada perusahaan mitra yang beroperasi dalam rantai bisnis yang sama.
“Kalau keselamatan memang harga mati, mengapa masih banyak pekerja berlalu-lalang menggunakan sepeda motor menuju lokasi kerja? Di mana konsistensi aturan yang selama ini dibanggakan?” teriak salah satu orator yang disambut sorakan massa.
Massa menilai keselamatan kerja tidak boleh berhenti sebagai slogan yang indah dalam seminar, spanduk, atau laporan perusahaan. Keselamatan harus terlihat nyata di lapangan, terutama ketika fasilitas bus karyawan tersedia namun tidak dimaksimalkan.
Bagi masyarakat, situasi ini menimbulkan kesan bahwa standar keselamatan diterapkan berbeda-beda. Ketika aturan ketat diberlakukan kepada satu pihak, namun praktik yang berisiko masih ditemukan di pihak lain, maka wajar jika publik mempertanyakan keseriusan komitmen tersebut.
Tak hanya soal keselamatan, kemarahan massa semakin memuncak ketika dialog terkait penyerapan tenaga kerja lokal dianggap tidak menghasilkan jawaban yang memuaskan. Perwakilan perusahaan yang hadir dinilai tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan sehingga forum yang seharusnya menjadi ruang solusi berubah menjadi ajang mendengar penjelasan tanpa kepastian.
“Jangan undang masyarakat berdialog kalau yang datang tidak bisa mengambil keputusan. Kami butuh solusi, bukan sekadar mendengar alasan,” ujar salah satu peserta aksi.
LSM-GEMPA menegaskan bahwa masyarakat di wilayah pemberdayaan tidak sedang meminta belas kasihan. Mereka menuntut hak yang dianggap wajar sebagai daerah yang selama puluhan tahun menjadi penyangga aktivitas tambang dan industri nikel.
Menurut mereka, keberadaan investasi raksasa seharusnya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, bukan justru memunculkan kesan bahwa warga lokal hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
Aksi ini menjadi sinyal keras bahwa kesabaran masyarakat mulai menipis. Di tengah miliaran dolar investasi yang terus mengalir ke sektor nikel Luwu Timur, publik kini menuntut lebih dari sekadar janji. Mereka meminta bukti nyata bahwa keselamatan pekerja benar-benar dijaga dan kesempatan kerja benar-benar dibuka secara adil.
Sebab bagi masyarakat, investasi yang besar tidak akan pernah berarti jika keselamatan pekerja dipertanyakan dan warga lokal terus merasa tersisih di kampung halamannya sendiri.(**)





